Beauty in the dark Part 47


- D -
Hari ini mungkin akan menjadi hari yang tak terduga bagiku.. Karena aku akan memutuskan keputusan kecil yang akan membuatku menyadari bahwa aku memang tak bisa menjadi seseorang yang penuh dengan dendam walau aku ingin.. Aku termasuk seseorang yang dapat menyimpan rasa dendam, tapi entah kenapa rasa dendam itu akan hilang dengan sendirinya.. seperti hari ini.. hari dimana aku memutuskan untuk mengubur dendamku dan menerima kenyataan bahwa inilah aku.. ya aku.. tak seharusnya aku menyalahkannya atas keputusanku..

----------------------
Tak butuh waktu berapa lama untuk kami tiba di tempat yang ditujunya.. sebuah tempat rekreasi di kota ini juga, taman S*L*CT*. Saat memasuki taman ini, hanya kekaguman yang terhingga terpancar dari mataku.. Hamparan berbagai jenis bunga ada dihadapanku, bagaimana aku tak bahagia melihatnya.. Taman ini merupakan replika dari Negeri dongeng.. aku mulai tersenyum dan berterimakasih padanya ( dalam hati )..

" gimana baguskan ?" dia sudah menjepret sana dan sini..
" he'em " aku mengangguk masih memandang hamparan taman ini.
" yuk jalan, apa mau disini liatin bunga ajah " dia mengajakku ketengah taman bunga, aku berjalan dengan perlahan memperhatikan bunga di kanan dan kiriku.. begitu indah dan banyak sekali.. andai saja aku punya taman seperti ini.. khayalanku entah kemana.. dan biarkan aku menikmati semuanya.. hari ini..

Kami berjalan mengelilingi taman ini sesuka hati, dia lebih memilih diam dan tak menggangguku.. sementara aku memilih berjalan - jalan sesukaku bahkan tak memperhatikannya lagi.. biarkan dia sibuk dengan kegiatannya.. Aku ingin menikmati hari ini.. Setelah puas melihat bunga dan menyentuhnya.. Aku pergi keatas melihat pemandangan sawa dan perbukitan.. Aku memandang sekitar dengan hati tenang menghirup udara sejuk.. begitu indahnya hidup ini.. TUHAN memberikan apapun yang kita butuhkan.. ya memang benar.. dan aku mengalaminya sejak dulu sampai hari ini..

Kakiku sudah mulai terasa capek dan aku memutuskan untuk mencari tempat agar aku dapat duduk atau berbaring sendirian di bawa pepohonan atau tempat yang memang disediakan untuk duduk ditaman ini.. Aku menemukan posisi yang aku rasa tak akan ada yang menghampiri.. Aku duduk diatas rerumputan menikmati pemandangan dari kejauhan ini.. Dan tak ada orang yang lewat disini.. sejenak aku merebahkan badanku, aku tak peduli ini akan mengotori badan atau rambutku.. setidaknya pikiranku sekarang adalah merilekskan diriku serileks-rileksnyaa..

Entahlah.. aku merasa lebih baik dibanding hari-hari sebelumnyaa..

" sendiri ya ?" suara yang tak asing bagiku dengan nada lembut
" maksudnya ?" aku hanya menjawab sewot
" sendirian ya ?"
" bisa liat kan ?"
" boleh gabung "
" nggak boleh.. "
" oyaa kenalin.. D.. " dia mengulurkan tangannya kewajahku sembari duduk disampingku..
" apaan sih ?" tanya ku sewot.. tanpa kata dan hanya senyum dia menarik tanganku untuk menyalaminya..
" anggap ajah kita kenal disini, bisa nggak ?" dia berkata lembut, sejenak aku terdiam dan berpikir.. aku bangkit dari tidurku dan duduk disampingnya menghadap ke arahnya..
" queen " aku menyalaminya..
" makasih.. " dia tersenyum lebar " makasih banyak queen " dia hendak memelukku..
" eiiitss.. nggak "
" iyaaaa.. " dia menjabat tanganku dengan eratnyaa..

Aku memutuskan menerima apa yang dia tawarkan untuk memulai hal yang baru yang justru akan aku ingkari.. D, menjadi bagian dalam hidupku.. tapi bagian yang lain yang akan membuat kisah hidupku menjadi rumit serumit hatiku..

Kami menghabiskan waktu mengobrol seperlunya.. Dia mengerti bahwa aku memang tak begitu banyak berbicara.. Karena memang kondisiku baru-baru ini sedang tak enak.. ditambah aku harus beradaptasi dengannya.. setelah lama berbincang, kami berjalan-jalan kembali sampai jam 2 siang.. yang kemudian dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain..

" abis ini makan yuk "
" iyaa.. "
" mau makan dimana ?"
" dimana ajah.. "
" oke deh.. "
" oyaa.. kapan kita pulang ?" aku teringat dengan pekerjaanku
" besok yaaa.. siang.. bisa kan ?"
" aku kerja malam ini.. mana bisa " protesku
" bisa kok.. aku udah kabarin temenmu.. udah minta tolong sama dia.. jadi bisa kan.?"
" fida.. aduuuh.. adikku.. aku lupaa.. "
" aman.. semua disana udah diurus sama temenmu katanya, jadi kita disuruh seneng-seneng disini.. "
" kok bisa. ?" aku bertanya curiga.. " kamu sekongkol apa sama fida.? hah.?"
" nggak ada loh.. curigaan amat kamu.. yang ada kemaren-kemaren aku nyari kamu dikosan dia.. nggak pernah ketemu akhirnya aku tanya-tanya sama anak situ nggak ada yang tau.. trus kebetulan tanya fida.. eh dia tau.. yaudah minta tolong sama dia.. awalnya dia bersikeras nggak mau nolongin.. tapi aku yakinin dia.. eh.. mau deh.. "
" yakin gitu ajah.."
" iyalah.. dia tuh jaga pribadi kamu banget tau.."
" yodah "
" udah gitu ajah ?"
" trus mau apa.?"
" bilang apa kek yang agak panjangan dikit "
" males.. buruan laper nih "
" iyaa.. iyaa.. "

-----------------------
" makan dimana yaaa.. bingung nih "
" kan aku udah bilang dimana ajah " jawabku sewot
" ish.. bakso mau?"
" mau.."
" yodah bakso ajah "

Akhirnya setelah lama berpikir, kami makan bakso.. dan memang bakso M*l*ng itu enak.. murah lagi.. dan tentu ajah karena aku penyuka bakso.. aku makan yang banyak.. bodok amat dah.. mumpung selerah makanku lagi baik ya makan ajah..

" laper nih " dia menyindirku
" iyaaa.. " aku menjawab cuek sambil makan.. tak memperdulikannya yang tersenyum melihatku..
" nambah.?"
" boleh emang ?" aku sudah bertanya dengan mata berbinar
" boleh lah.. mau berapa porsi ?" dia menawarkan
" satu ajah.. baksonya ajah nggak pake mie " karena dia yang membayar aku hanya meminta sekedarnya ajah..
" cukup.?"
" cukup kok "
" yodaah.. aku pesenin lagi yaa " Dia memanggil pelayan dan memesan bakso untukku.. dengan sisipan kata "agak cepet ya mbak "

Aku memilih cuek dan menikmati bakso yang masih ada di mangkokku dan saat bakso pesanan ku datang lagi, aku hanya mengambilnya dan sedikit menyimpulkan senyuman ke dia.. Selesai makan aku memintanya untuk kembali ke rumahnya, karena aku capek dan mau istirahat.. dia hanya meng iyakan.. syukurlah dia tidak curiga dengan kondisi fisikku.. Badanku memang sudah tidak fit beberapa waktu ini..

-----------------------
" mau minum nggak?"
" nggak .. aku mau istirahat ajah " aku berjalan kearah kamar ditemani olehnya " kamu ikut masuk juga ?" tanya ku menyelidik
" iyaa lah.. ini kan kamarku.. ya jelas aku masuk "
" apaan.. sana pergi.. aku mau istirahat "
" diih.. dari tadi malem juga aku disini sama kamu.. lagian kamu nggak bisa larang aku "
" kenapa nggak bisa ? hah.?" aku menantangnya
" tuh kamar mana ada kuncinya.. jagain ajah pintunya biar aku nggak bisa masuk " dia berkata dengan pedenya dan akhirnya aku mengambil sikap cuek.. kesialanku bertambah..
" awas kamu macem-macem " aku meninggalkannya dengan cepat kedalam kamar dan menidurkan diriku, sementara dia sudah tertawa kegirangan seperti mendapatkan durian runtuh..

Entahlah aku tak bisa berpikir atau marah atau apa.. yang aku ingin secepatnya tertidur dan menenangkan diriku.. aku tak mau pingsan disini.. aku tak mau pingsan lagi.. jadi aku harus beristirahat sejenak.. sedikit ku intip dia dari sela bulu mataku yang pendek, dia sedang duduk di kamar ini tanpa melakukan apapun.. ahh.. sudahlah.. saatnya tidur..

---------------------
Aku terbangun dari tidur nyenyakku untuk kedua kalinya dalam hari ini.. Rasanya beban ini sedikit berkurang.. Mungkin memang aku membutuhkan sedikit kehangatan laki-laki dalam kondisi seperti ini.. Dan aku mengakuinya, memang aku membutuhkannya.. Aku tidak menjadi seorang gadis yang munafik atau menjadi gadis yang berpura-pura hanya mencintai satu orang.. Tapi tetap saja diantara semua orang yang mengisi hatiku.. Masih reza yang ada diposisi utama.. Dan biarkan kisahku berlanjut hari ini..

Ini sudah terlalu sore dan sepertinya sudah malam.. tidurku terlalu nyenyak mungkin.. aku masih bergulat diatas tempat tidurku tanpa menyadari dia ternyata ada disampingku.. masih tertidur..

Kulihat dia sedang tertidur dengan senyum simpul dibibirnya.. apakah ini tidur terindahnya.? atau kah ini hari terindahnya.? sehingga tidurpun dia menyimpulkan senyuman.. Ah.. pikiranku semakin tidak karuan.. Kalau saja dia datang disaat kondisiku sedang baik-baik saja seperti yang lalu, mungkin aku akan menjauhinya dan membuangnya.. bahkan menghidarinya sampai mati.. Tapi ini berbeda, dia datang disaat aku membutuhkan pegangan.. dan dia datang dengan cara TUHAN.. aku menerimanya..

Aku masih memandangnya.. kuperhatikan lekuk wajahnya.. rambut hitam lebat tersusun rapi.. mata bulat dengan bulu mata lebat yang sedikit lentik namun tegas.. alis yang tebal tersusun rapi.. ternyata dia punya mata yang indah.. aku sedikit mendekatkan wajahku.. entahlah.. ini terjadi tanpa aku sadari.. kuperhatikan lagi lebih kebawa.. hidung mancungnya sedikit menggemaskan.. kumis tipis yang tersusun rapi menandakan dia akan beranjak dewasa.. dan bibir penuh merah mereka miliknya.. dagunya yang mempertegas wajahnya.. ya TUHAN.. ternyata dia sangat menarik dan benar - benar menarik untuk semua wanita.. dia sosok yang sempurna..tapi, aku baru menyadarinya.. kali ini sedikit rasa datang karena kejadian tak terduga ( Pertemuan dan Kebersamaan )..

NEXT PART 48
Share:

Beauty in the dark Part 46


(Sejenak) Aku Bahagia
Aku bangun dari tidur singkatku, setidaknya sudah 2 jam aku tertidur dalam mimpi indahku.. Biasanya aku tertidur dalam kegelisahanku yang membuatku kondisiku semakin memburuk.. Tapi idur 2 jam ini sangat menyenangkan bagiku, entah itu karena pelukannya, entah karena hatiku yang sedikit membaik, aku tak pernah tau.. yang jelas aku merasakan kedamaian setelah masa sulit ini.. walau hanya sedikit..

Dia sudah tak ada dikamar, aku masih bergulat dengan selimutku.. menikmati pagi ini.. Kuamati sekeliling kamar, dimeja sudah ada handuk bahkan bingkisan.. Aku bangkit dari kasur dan melihatnya.. Handuk untukku, ada kertas diatasnya.. Ku ambil dan kubaca..

" Aku nggak tau kamu suka atau nggak, tapi pakailah."
- D -

Aku melihat isi bingkisan yang ada disebelah handuk.. Ku buka ada dua bingkisan lagi didalamnya.. Satu ditas berwarna merah mudah kalem dan sati lagi ditas bera\warna hitam.. Aku keluarkan keduanya dan aku buka.. Sebenernya nggak ada alasan untuk kaget, tapi ditas merah muda kalem ternyata isinya pakaian dalam cewek warna merah dan hitam.. Kenapa dia belikan aku 2 pasang pakaian dalam dan semua warna kesukaanku, tapi sepertinya imajenasinya akan liar membayangkan aku memakai apa yang dia belikan.. Tapi setidaknya dia tidak membelikanku dengan model yang membuatku geli untuk memakainya.. Sementara ditas satunya aku ada baju untukku.. Modelnya semi gaun dengan panjang selutut berwarna merah muda pudar keputihan.. Memakainya seperti gadis anggun.. Setidaknya ini pakaian yang aku punya saat ini..

Aku beranjak kekamar mandi.. mandi dengan perasaan tanpa beban hari ini.. sedikit bersenandung.. beda dengan hari-hari sebelumnya.. Kulihat wajahku dikaca.. ada yang berbeda.. wajahku lebih terlihat berseri hari ini, menjadi sedikit bercahaya.. ya TUHAN, apa yang terjadi denganku.. kenapa dia yang aku benci yang ada dihadapanku saat ini bahkan membuatku menjadi lebih baik.. ya TUHAN, aku mohon jauhkan aku darinya sebelum terlambat.. sedikit penyesalan tak begitu berarti dalam raut wajahku pagi ini..

Aku merapikan diriku.. tidak seperti disaat aku akan bertemu reza.. kali ini lebih biasa tanpa memoles apapun.. ala kadarnya diriku.. selesai berberes, aku memutuskan untuk keluar kamar..

Ini sebuah rumah mewah nan minimalis.. terlihat nuansa asri dirumah ini dan sepih.. aku memberanikan berjalan ke sisi-sisi rumah ini sendiri.. bagus.. beda dengan rumah dikampung.. dulu aku hanya bisa melihat rumah ini di gambar atau melewati perumahan mewah.. tapi sekarang berada didalamnya dan berjalan-jalan didalamnya.. berbeda dengan rumahku.. tapi bagaimanapun juga, rumahku adalah rumah terbaik yang pernah ada dihidupku..

Ada taman kecil didalam rumah ini.. Aku berjalan kearah taman itu.. Terdapat tempat berteduh ditaman itu, kolam kecil untuk sekedar bermain dengan ikan.. terdapat beberapa jenis tanaman.. Seakan memasuki dunia berbeda saat berada diberanda pintu ini.. Begitu sejuk dan damai ada disini.. aku memandang kagum pada sekitar..

" bagus ya ?" suara ramah muncul dari belakangku
" eh.. iyaaa " aku mencoba bersikap biasa terhadapnya
" ayooo.. makan.. laperkan " dia mengajakku untuk makan, sepertinya dia sudah mencariku di sudut rumah ini hingga menemukanku disini.. aku mengangguk dan mengikutinya saja.. Kulihat dia memegang kamera.. aku memberanikan diri bertanya..
" kamere buat apa ?"
" oh.. ini.. buat ini " dia mengarahkan kameranya dengan sekejap kearahku dan memfotoku. aku yang awalnya kaget spontan memarahi dia..
" iiih.. apaan.. siniin kamrenyaa " aku coba mengambilnya
" buat apa ?" dia mencegah samberan tanganku
" diapus.. siniin.. apus nggak ?" aku mulai sebel kepadanya
" nggak.. weeekk " dia berlari kecil sambil sesekali memfotoku " ayoo sini kalo bisa ambil.. " dia mengejekku.. aku mengejarnya sambil menutup wajahku saat dia mengambil fotoku..

Dia berlari sampai kemeja makan, disana ada seseorang.. umurnya kurang lebih 40-50 tahunan sepertinya.. mungkin asli sini.. dia hanya melihatku sekali dan tersenyum seperti mengundurkan diri.. aku yang kaget melihatnya, menghentikan lariku dan tersenyum menunduk kepada ibu itu.. sementara dia sudah ada didepan meja makan dan menggeserkan kursi untukku..

" duduk sini " dia menepuk punggung kursi.. aku yang masih agak canggung dan kaget karena ada ibu tadi ( sebenarnya malu karena berlai-lari seperti anak kecil ) memutuskan duduk dikursi yang di berikannya.. Bisa membayangkan bagaimana ekspresiku saat itu.. seperti orang yang salah tingkah tapi mau bagaimana lagi, terima sajalah..
" tadi siapa ?" aku sudah duduk dan menunggunya duduk disebelahku ( sudah lupa dengan insiden foto karena hal lain )
" ooh.. kenapa ?" dia mengambilkan ku sarapan
" tanya ajah.. "
" mukamu lebih bagus ada ekspresi daripada datar gitu " dia berkata cuek masih mengambilkanku beberapa menu, aku hanya diam..
" heem.. dia yang nginep sini.. jaga ini rumah " akhirnya dia memilih menjelaskan
" ohhh " aku hanya mengangguk " udah segini ajah " aku memastikan porsiku tidak seperti yang dia bayangkan
" yakin.? "
" iyaaa.. kenapa ?"
" nggak apa-apa.. kamu diet ya ?"
" nggak "
" kok kurusan.. makannya dikit lagi "
" lagi males ajah "
" irit banget yaaa "
" apanya ?"
" ngomongnyaa.. bisa nggak dibanyakin.. apa kek.. ini kek.. itu kek.. pelit banget sama kata-kata "
" iya kapan-kapan " aku mulai melahap makanan ku
" nggak nawarin makan, nggak ngambilin balik.. " dia seperti seakan menganggap kami tak ada masalah dan trus berusaha bersikap baik terhadapku.. dan aku hanya mengacukannya sambil makan.. akhirnya dia menyerah dan ikut makan dengan hati kesal mungkin..

----------------------
" makannya cepetin bisa nggak ?"
" iyaaa " aku menjawab singkat
" nggak tanya kenapa atau apa gitu " dia bertanya heran, aku hanya memandangnya sekilas dan melanjutkan makan ku.. " udah kuduga.. abis ini kita jalan ya. "
" ke.." belum sempat aku melanjutkan.. dia sudah membalasnya " ssstttt.. ikut ajah.. jangan nolak.. " dia mengelus rambut atasku dan meninggalkanku " makan yang banyak dulu biar kuat.." dan lagi.. aku hanya diam..

TUHAN, perasaan apa ini.. kenapa seperti ini.? Apakah ini sekenario baru yang akan aku jalani.. Dia datang dihidupku diwaktu yang salah dan kejadian yang salah.. Dan kini dia datang dihidupku diwaktu yang tepat dan kejadian yang tepat.. Dia datang tanpa aku tahu bagaimana awal mula kedatangannya.. ya TUHAN.. tolong aku..

-----------------------
Dia kembali membawa beberapa bawaan yang aku tak tau apa.. dengan tersenyum riang dia seakan tak pernah merasa tersakiti saat aku tak menganggapnya ada dalam hidupku..

" udah.. yuk "
" aku ambil tas dulu "
" nggak usah.. nggak butuh jugaa.. yuk langsung ajah "
" trus ini ?" aku memandang ke arah meja makan
" biar mbok yang beresin, udah yuk aah "

Aku berjalan mengikutinya dari belakang.. dia menuntun jalan keluar rumah.. saat tiba diluar, aku baru sadar kalau aku hanya bertelanjang kaki ( aku tak tau dimana sepatu yang aku pakai terakhir kali ).. dan aku berhenti sebentar.. dia pun sadar kalau ada yang aneh denganku..

" kenapa ?" dia menoleh kearahku, aku hanya diam memainkan kakiku sambil menunduk.. entahlah selah-olah aku seperti gadis pemalu atau apa jika didepannya saat ini.. " astaga.. aku lupa.. " dia tau apa yang aku maksud " bentar ya.. " dia tersenyum dan berlari kedalam rumah, entah apa yang akan diambilkannya untukku..

Tak butuh waktu lama untuk menunggunyaa.. Dia membawa bungkusan.. dan memberikannya kepadaku.." nih pake " aku mengambilnya.. kulihat didalamnya ada kotak.. ku buka kota itu ternyata isinya sepatu.. selerahnya bagus juga.. pas denganku.. aku memakainya dan pas dikakiku.. sejenak aku bengong dan berpikir sambil memandang kaki ku.. " kenapa semua ukuran pas.? apa dia sudah mengukur badanku.? jangan-jangan tadi malam dia udah gerayangin aku.." pikiran negatif bermunculan dikepalaku dalam lamunanku..

" woooi.. ayoook.. mala bengong "
" eh.. iyaa " aku berjalan ke keluar mengikutinya dan masuk kedalam mobil yang dibukakannya.. sementara dia hanya tertawa melihatku.. mungkin dipikirannya aku gadis desa yang aneh.. tapi sudahlah.. bukan urusanku apapun pikirannya.. intinya aku akan bertanya kepadanya tau darimana dia ukuran baju, daleman bahkan sepatuku..(nanti).

" kamu tau darimana semuanya ?" aku membuka obrolan disela perjalanan
" heh.. apanya ?" dia bertanya bingung
" ukuran baju, sepatu sma itu "
" oooh.. itu.. ya tau ajah " dia tertawa nyengir
" serius ini.. " aku mulai jutek
" dihh.. penasaran amat.. kenapa emangnya ?"
" ya jelas.. secara kamu tau semuanya.. tadi malem kamu pegang-pegang aku yaa " aku mulai sedikit emosi
" kalo tadi malam rahasia dong.. yang jelas aku tau lah.."
" beneran kan.. turunin aku disini " bentakku, walau aku tau nih jalan sepi kayak utan tapi setidaknya ini siang dan aku berani..
" yakin.? masak karena itu ajah minta turun "
" iyaa.. turunin pokoknyaa " aku sudah membentaknya
" diih.. kamu.. jelas-jelas udah pernah tidur sama aku, masak dirabah dikit ajah langsung ngamuk-ngamuk "
" aku tidur sama kamu, bukan berarti seenak jidatmu pegang-pegang badanku.. kamu pikir aku cewek apaan "
" cewek ku "
" apa.? "
" nanti maksudku.. udah aah.. jangan marah.. ya jelas aku tau lah.. aku kan pernah pegang, pernah rasain, pernah semua.. kan aku udah bilang cuma kamu.. jadi ya aku masih inget.."
" boong banget kamu "
" serius ini.. kamu mikirnya negatif trus sih ke aku.. padahal aku nggak gitu loh.. udah aah.. jangan marah-marah nggak seru jalan-jalannya "
" bodok.. "
" iyaa.. sory.. sory.. tadi malem aku cuma peluk kamu sebentar.. eh.. agak lama " aku masih memperlihatkan wajah marahku kepadanya " cium pipi juga.. eh.. kening.. "
" apa lagi ?" paksaku
" oke.. oke aku ngaku.. tadi malam aku tidur disebelahmu, meluk kamu, cium semua yang ada di wajahmu.. udah itu ajah.. nggak grepek juga.. sumpah " dia mengaku dengan terpaksa..
" bibir.?" aku bertanya ke dia dengan sungguh-sungguh
" maafin aku.. aku tau kamu nggak suka.. tapi nggak bisa nahan buat nggak nyium bibirmu.. maaf.. " dia bersungguh-sungguh entah berpura-pura.. aku hanya diam..
" aku memang mau banget nyium bibirmu bahkan nggak bisa nahan.. tapi aku nggak bisa.. aku maunya nyium itu kalo kamu ngasih.. aku nggak bisa nyium seenakku.. maaf yaa.. ini beneran kok.. aku nggak boong "
" iyaa.. makasih " setidaknya dia tak mencium bibirku.. karena aku punya aturan untuk urusan ciuman dengan bibir..

Dia tetap melanjutkan perjalanan kami ketempat yang dia ingin tujuh untuj mengajakku jalan-jalan hari ini.. Entah hal gila apa yang akan dia perbuat, biarlah.. Dan setidaknya aku tak diturunkannya dijalan karena aku nggak bawa apa-apa..

Quote:Kenapa seorang pelacur tidak ingin dicium bibirnya.?

" Karena mulut merupakan saluran yang menghubungkan dunia luar dengan apa yang ada dalam tubuh termasuk hati.. Dan aku, sebagai seorang pelacur mempunyai hati yang didalamnya terdapat cinta.. Cinta bisa tumbuh karena pertemuan, perbincangan, kebersamaan dan CIUMAN.. Dan dalam pekerjaan aku tidak melibatkan hatiku atau perasaan ku untuk menikmati apa yang aku lakukan saat memuaskan mereka, sehingga aku tak akan memberikan bibirku.. Dan.. aku hanya akan berbagi apa yang masuk kedalam tubuhku dengan orang yang memang aku cintai.. bukan dengan orang yang menikmatiku.."

Tapi, kebanyakan pelacur akan memberikan ciumannya karena dia memang dia sudah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.. dia bukan lagi wanita yang dengan terpaksa melakukan, tapu dia wanita yang menikmati setiap jengkal kepuasan yang diberikan semua pria dengan mendapat bonus untuk kenikmatan yang dia berikan dan dia dapatkan.

NEXT PART 47
Share:

Beauty in the dark Part 45


De Klein Switzerland van Java (Agropolitan)
Sejenak aku sadar dari duniaku sendiri.. dan aku berada didaerah yang asing denganku.. sangat begitu asing.. aku memadan jalan yang kami lewati.. tak pernah aku melewatinya dan aku yakin ini bukan di kota yang sama.. aku meliriknya, wajahnya kaku dan menakutkan seakan dia tak ingin siapapun mengganggunya.. ya wajah yang tak pernah dia tunjukkan dihadapanku bahkan hari ini..

" kita mau kemana ini ?" aku berusaha menenangkan suaraku walau terdengar gusar. dia hanya diam dan menatap jalanan dengan wajah kakunya..
" heeeii.. kita mau kemana ?" aku mencoba bertanya dengannya kali ini dengan nada suara yang lebih keras. Entah apa yang ada dipikiran, dia sama sekali tak menghiraukanku.. Aku... ya aku semakin takut apa yang akan terjadi kepadaku.. akhirnya aku memutuskan untuk menelepon fida.. mungkin ini akan menjadi lebih baik.. Aku mengambil hape dari tasku.. Tapi, kesialan sepertinya berpihak kepadaku.. Hapeku mati.. keabisan batre.. dan aku hanya bisa menangis.. Satu-satunya jalanku untuk memperbaiki suasana adalah menangis, tapi tangisku tertahan dalam diam ku.. Dia tetap tak bergeming sampai akhirnya dia berhenti mendadak lagi..
" bisa berhenti nangis nggak sih ?" dia sedikit sinis terhadapku, namun aku memilih diam dan tak menjawabnya.. " aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu jadi berhenti nangisnya " tangisanku sedikit melemah..
" trus kita mau kemana ?"
" udah ikut ajah.. janji nggak bakal macem-macemin kamu "
" mana bisa aku percaya kamu "
" nggak perlu percaya, liat ajah nanti.. udah diem " aku hanya memilih diam.. ya diam..

------------------------
Entah sudah berapa jam aku diam disini.. dan hatiku semakin kacau.. entah apa yang akan dia lakukan dan akan membawaku kemana.. Aku berusaha melihat sekeliling, mencoba melihat berbagai tulisan dengan sorotan lampu yang minim di kegelapan malam.. Dan kita memang sudah berada dikota yang berbeda.. Kota yang dingin dan menyejukkan.. Kota ini sering dikenal sebagai kota Paris Van East Java atau kota Apel.. Tapi sepertinya kami masih melewati kota ini.. Aku semakin tak mengerti akan dibaw kemana olehnya.. Disamping kondisi fisikku yang tidak begitu baik dan ini memang sudah malam, ini semakin membuatku berada dalam kondisi yang tidak baik.. Ya sepertinya aku akan pingsan jika tidak segera tidur.. Tapi aku tetap berusaha untuk menyadarkan diriku.. Sebisa dan semampuku..

-----------------------
Kepalaku terasa pusing hari ini.. kondisiku semakin memburuk, dirundung kesedihan dan semua pemikiran yang menjadikanku semakin larut dalam kesengsaraanku.. Aku mencoba membuka mataku.. Apa yang kulihat ini nyata.. Sangat nyata.. Dihadapanku ada Tama.. Entah sejak kapan dan bagaimana dia ada dihadapanku.. Dan raut wajahnya, ya TUHAN dia terlihat bercahaya dengan senyum tulusnyaa.. Aku memberikan senyumanku kepadanya, seakan hendak mengadu kepadanya.. tanpa basa basi aku memeluknya ya memelukanya erat, sangat erat.. Terasa hangat pelukannya dan tak ingin ku lepas.. Awalnya.. tapi akhirnya aku melepasnya karena dia bukan yang aku harapkan..

" syukurlah kamu baik-baik ajah queen " seketika aku menyadari ini bukan suara tama.. tapi ini suara orang yang aku benci, benci karena alasan yang tidak pasti.. dan aku langsung menjauh darinya..
" ngapain kamu disini ?" aku betanya sinis terhadapnya
" masak kamu lupa.. dari tadi malem kan kamu sama aku.. trus kamu tadi juga senyum, peluk aku "
" aku nggak inget " aku berusaha mengalihkan pembicaraan " ini dimana ? " aku mengamati sekitar.
" dikamar " dia hanya menjawab singkat " udah istirahat ajah kalo masih ngantuk "
" aku tau dikamar, tapi didaerah mana ?" perasaanku semakin kacau, takut dia memperkosaku.. karena sudah pernah mengalami hal buruk dengannya, aku sudah berpikir yang aneh-aneh walau dia tak melakukan apapun denganku..
" nanti juga tau " dia berkata singkat sambil membuka gorden penutup jendela..
Sejenak aku terkejut melihat hamparan pemandangan indah di hadapan jendela ini.. tapi aku benar-benar tidak tahu ini dimana..
" gimana aku tau.. aku nggak pernah kemana-mana.? tadi malam juga aku tau kita lewat M*l*ng dari jalan-jalan " aku protes kepadanya
" kita masih sekitaran M*l*ng kok, cuma beda kota " dia masih bersikap dingin..

Aku memilih diam dan memandang jendela yang ada disisi tempat tidurku.. Ini bukan kamar hotel, ini juga bukan losmen, tapi apa ini vila.. ngapain juga dia repot-repot sewa vila.. atau dia memang udah rencanain semuanya.. memikirkan segala kemungkinan membuatku lupa akan fida maupun anda.. entah apa yang terjadi disana.. entahlah.. aku teralihkan oleh makhluk yang ada bersamaku saat ini ( menculikku lebih tepatnya)..

" udah istirahat ajah, masih pagi.. siapin tenaga yang banyak buat nanti "
" emang mau ngapain.?" aku sudah memikirkan hal yang merusak otakku, berpikir negatif atas apapun yang dia akan lekukan dan rencanakan..
" ilangin pikiran jorokmu.. kalo nggak aku bakal ngelakuinnya ke kamu " aku benar-benar terkejut dengan perkataannya, dia semakin membuatku takut.. tapi aku memberanikan diri untuk melawannya..
" makannya jawab "
" kan udah aku bilang ikut ajah walau nggak percaya.. buktinya apa ada aku nyentuh kamu.. kalo aku mau.. tadi malem juga bisa aku perkosa kamu sampe puas.. tapi nggak aku buat, aku masih punya hati sama otak.. "
" ----------" diam tanpa kata dan mencoba menyadari bahwa mungkin aku terlalu salah terhadapnya menganggap dia bajingan super.. hanya karena kesalahanku.. dan kenapa aku selalu menjadi orang yang menyalahkan diriku sendiri.. aku benci diriku yang lemah terhadap orang lain.. bahkan untuk menjadi jahat pun aku belum bisa.. ya belum..
" udah istirahat sana.. atau mau aku tidurin " dia mencoba bercanda terhadapku dengan candaan yang pasti akan membuatku marah.. namun bukan marah yang aku lakukan.. aku memilih membenamkan badanku ke kasur, menghadap jendela, melingkarkan selimut keseluruh badanku, bahkan aku memeluk bantal.. sedikit merengungi apa yang ada.. ya segala pemikiran burukku terhadapnya..

Aku masih tak bisa tertidur.. namun aku berusaha memejamkan mataku.. setidaknya dengan begini aku tak bingung harus bersikap apa terhadapnya.. Kupejamkan mataku dalam-dalam menikmati dingingnya udara yang masuk dari cela-cela jendela pagi ini.. terasa menyenangkan.. Entah berapa lama aku begini, tapi aku menyukainya.. Perlahan entah mimpi atau bukan.. Aku merasakan pelukan hangat dari belakang tubuhku.. Ya, sangat hangat dan lembut.. Ingin aku segera bangkit dan menjauh dari nya.. Namun, entah apa yang terjadi, hatiku hanya berkata biarkan dia.. lupakan sejenak kebencianmu, karena kamu membutuhkan sedikit kehangatan dalam kesepianmu.. Hati dan pikiranku beradu namun ragaku hanya dia tak berpaling sedikitpun.. Biarkan aku menikmatinya.. untuk saat ini.. karena aku butuh.. ( sebuah pembenaran untuk hal terlarang.. )

Aku pikir dia tau kalau aku tak tertidur, ternyata dia memang berpikir aku sudah tertidur kembali.. dia hanya memelukku tanpa melakukan adegan mesum yang akan aku bayangkan.. ya dia hanya menghangatkan dan mencoba menghiburku.. yaa.. dia tulus, hanya saja dia datang diwaktu dan kejadian yang salah.. yang membuatku harus membencinya.. ya membencinya..

" kalo aku bisa balikin semuanya.. aku lebih milih kehilangan semuanya demi balikin semuanya ke kamu " dia berkata lirih saat memelukku " aku lebih suka kamu tidur, maafin aku " dia berkata lemah dan mengulang permintaan maafnya kepadaku dan mencium pipiku.. lagi dia mengucapkan kata yang membuatku benar-benar merasa ini tak adil.. seperti kisah cintaku kepada reza.. dia juga mengalami ketidak adilan ini.. Aku memilih diam dan berada diantara ketidak adilan ini.. yaa.. ini sudah cukup bagiku..

Mungkin dengan diam aku lebih bisa menerimanya dan dia lebih merasa nyaman denganku.. Aku larut dalam pikiranku sendiri hingga aku tertidur lagi tanpa rasa takut yang berlebihan.. Dan mungkin dia juga tertidur.. karena pagi ini, mungkin pagi terindah untuknya karena bersamaku dan pagi terindah untukku karena ada yang memelukku dimasa-masa tersulit ini.. Dan biarkan diam menjadi saksi bahwa aku mulai sedikit memaafkannya..

Quote:" Memaafkan itu tidak sulit.. Karena benci dan cinta itu terletak pada satu ruang yang sama yaitu , Maka berilah banyak porsi untuk rasa cinta dan sedikit porsi untuk rasa benci.. Sehingga memaafkan pun akan terasa lebih mudah untuk dilakukan - Memaafkan, memberi sedikit ruang pada rasa benci "

Dan setiap kisahku memiliki sebuah makna yang akan aku jadikan pelajaran hidupku.. Dibalik sosok wanita sepertiku, terdapat sebuah kisah yang akan terkunci rapat dalam hidupku.. Dan bagi kalian yang mengenalku di kehidupan nyata, biarlah kalian menerka apa yang pernah terjadi dan apa yang aku alami atau pendidikan/orang tua seperti apa yang ada padaku, bahkan lingkungan seperti apa yang bersamaku.. dan cukuplah kalian tau.. ini aku untuk hidupku ( dengan kisah kelam terpendam )...

NEXT PART 46
Share:

Beauty in the dark Part 44


De Klein Switzerland van Java (Agropolitan)
Sejenak aku sadar dari duniaku sendiri.. dan aku berada didaerah yang asing denganku.. sangat begitu asing.. aku memadan jalan yang kami lewati.. tak pernah aku melewatinya dan aku yakin ini bukan di kota yang sama.. aku meliriknya, wajahnya kaku dan menakutkan seakan dia tak ingin siapapun mengganggunya.. ya wajah yang tak pernah dia tunjukkan dihadapanku bahkan hari ini..

" kita mau kemana ini ?" aku berusaha menenangkan suaraku walau terdengar gusar. dia hanya diam dan menatap jalanan dengan wajah kakunya..
" heeeii.. kita mau kemana ?" aku mencoba bertanya dengannya kali ini dengan nada suara yang lebih keras. Entah apa yang ada dipikiran, dia sama sekali tak menghiraukanku.. Aku... ya aku semakin takut apa yang akan terjadi kepadaku.. akhirnya aku memutuskan untuk menelepon fida.. mungkin ini akan menjadi lebih baik.. Aku mengambil hape dari tasku.. Tapi, kesialan sepertinya berpihak kepadaku.. Hapeku mati.. keabisan batre.. dan aku hanya bisa menangis.. Satu-satunya jalanku untuk memperbaiki suasana adalah menangis, tapi tangisku tertahan dalam diam ku.. Dia tetap tak bergeming sampai akhirnya dia berhenti mendadak lagi..
" bisa berhenti nangis nggak sih ?" dia sedikit sinis terhadapku, namun aku memilih diam dan tak menjawabnya.. " aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu jadi berhenti nangisnya " tangisanku sedikit melemah..
" trus kita mau kemana ?"
" udah ikut ajah.. janji nggak bakal macem-macemin kamu "
" mana bisa aku percaya kamu "
" nggak perlu percaya, liat ajah nanti.. udah diem " aku hanya memilih diam.. ya diam..

------------------------
Entah sudah berapa jam aku diam disini.. dan hatiku semakin kacau.. entah apa yang akan dia lakukan dan akan membawaku kemana.. Aku berusaha melihat sekeliling, mencoba melihat berbagai tulisan dengan sorotan lampu yang minim di kegelapan malam.. Dan kita memang sudah berada dikota yang berbeda.. Kota yang dingin dan menyejukkan.. Kota ini sering dikenal sebagai kota Paris Van East Java atau kota Apel.. Tapi sepertinya kami masih melewati kota ini.. Aku semakin tak mengerti akan dibaw kemana olehnya.. Disamping kondisi fisikku yang tidak begitu baik dan ini memang sudah malam, ini semakin membuatku berada dalam kondisi yang tidak baik.. Ya sepertinya aku akan pingsan jika tidak segera tidur.. Tapi aku tetap berusaha untuk menyadarkan diriku.. Sebisa dan semampuku..

-----------------------
Kepalaku terasa pusing hari ini.. kondisiku semakin memburuk, dirundung kesedihan dan semua pemikiran yang menjadikanku semakin larut dalam kesengsaraanku.. Aku mencoba membuka mataku.. Apa yang kulihat ini nyata.. Sangat nyata.. Dihadapanku ada Tama.. Entah sejak kapan dan bagaimana dia ada dihadapanku.. Dan raut wajahnya, ya TUHAN dia terlihat bercahaya dengan senyum tulusnyaa.. Aku memberikan senyumanku kepadanya, seakan hendak mengadu kepadanya.. tanpa basa basi aku memeluknya ya memelukanya erat, sangat erat.. Terasa hangat pelukannya dan tak ingin ku lepas.. Awalnya.. tapi akhirnya aku melepasnya karena dia bukan yang aku harapkan..

" syukurlah kamu baik-baik ajah queen " seketika aku menyadari ini bukan suara tama.. tapi ini suara orang yang aku benci, benci karena alasan yang tidak pasti.. dan aku langsung menjauh darinya..
" ngapain kamu disini ?" aku betanya sinis terhadapnya
" masak kamu lupa.. dari tadi malem kan kamu sama aku.. trus kamu tadi juga senyum, peluk aku "
" aku nggak inget " aku berusaha mengalihkan pembicaraan " ini dimana ? " aku mengamati sekitar.
" dikamar " dia hanya menjawab singkat " udah istirahat ajah kalo masih ngantuk "
" aku tau dikamar, tapi didaerah mana ?" perasaanku semakin kacau, takut dia memperkosaku.. karena sudah pernah mengalami hal buruk dengannya, aku sudah berpikir yang aneh-aneh walau dia tak melakukan apapun denganku..
" nanti juga tau " dia berkata singkat sambil membuka gorden penutup jendela..
Sejenak aku terkejut melihat hamparan pemandangan indah di hadapan jendela ini.. tapi aku benar-benar tidak tahu ini dimana..
" gimana aku tau.. aku nggak pernah kemana-mana.? tadi malam juga aku tau kita lewat M*l*ng dari jalan-jalan " aku protes kepadanya
" kita masih sekitaran M*l*ng kok, cuma beda kota " dia masih bersikap dingin..

Aku memilih diam dan memandang jendela yang ada disisi tempat tidurku.. Ini bukan kamar hotel, ini juga bukan losmen, tapi apa ini vila.. ngapain juga dia repot-repot sewa vila.. atau dia memang udah rencanain semuanya.. memikirkan segala kemungkinan membuatku lupa akan fida maupun anda.. entah apa yang terjadi disana.. entahlah.. aku teralihkan oleh makhluk yang ada bersamaku saat ini ( menculikku lebih tepatnya)..

" udah istirahat ajah, masih pagi.. siapin tenaga yang banyak buat nanti "
" emang mau ngapain.?" aku sudah memikirkan hal yang merusak otakku, berpikir negatif atas apapun yang dia akan lekukan dan rencanakan..
" ilangin pikiran jorokmu.. kalo nggak aku bakal ngelakuinnya ke kamu " aku benar-benar terkejut dengan perkataannya, dia semakin membuatku takut.. tapi aku memberanikan diri untuk melawannya..
" makannya jawab "
" kan udah aku bilang ikut ajah walau nggak percaya.. buktinya apa ada aku nyentuh kamu.. kalo aku mau.. tadi malem juga bisa aku perkosa kamu sampe puas.. tapi nggak aku buat, aku masih punya hati sama otak.. "
" ----------" diam tanpa kata dan mencoba menyadari bahwa mungkin aku terlalu salah terhadapnya menganggap dia bajingan super.. hanya karena kesalahanku.. dan kenapa aku selalu menjadi orang yang menyalahkan diriku sendiri.. aku benci diriku yang lemah terhadap orang lain.. bahkan untuk menjadi jahat pun aku belum bisa.. ya belum..
" udah istirahat sana.. atau mau aku tidurin " dia mencoba bercanda terhadapku dengan candaan yang pasti akan membuatku marah.. namun bukan marah yang aku lakukan.. aku memilih membenamkan badanku ke kasur, menghadap jendela, melingkarkan selimut keseluruh badanku, bahkan aku memeluk bantal.. sedikit merengungi apa yang ada.. ya segala pemikiran burukku terhadapnya..

Aku masih tak bisa tertidur.. namun aku berusaha memejamkan mataku.. setidaknya dengan begini aku tak bingung harus bersikap apa terhadapnya.. Kupejamkan mataku dalam-dalam menikmati dingingnya udara yang masuk dari cela-cela jendela pagi ini.. terasa menyenangkan.. Entah berapa lama aku begini, tapi aku menyukainya.. Perlahan entah mimpi atau bukan.. Aku merasakan pelukan hangat dari belakang tubuhku.. Ya, sangat hangat dan lembut.. Ingin aku segera bangkit dan menjauh dari nya.. Namun, entah apa yang terjadi, hatiku hanya berkata biarkan dia.. lupakan sejenak kebencianmu, karena kamu membutuhkan sedikit kehangatan dalam kesepianmu.. Hati dan pikiranku beradu namun ragaku hanya dia tak berpaling sedikitpun.. Biarkan aku menikmatinya.. untuk saat ini.. karena aku butuh.. ( sebuah pembenaran untuk hal terlarang.. )

Aku pikir dia tau kalau aku tak tertidur, ternyata dia memang berpikir aku sudah tertidur kembali.. dia hanya memelukku tanpa melakukan adegan mesum yang akan aku bayangkan.. ya dia hanya menghangatkan dan mencoba menghiburku.. yaa.. dia tulus, hanya saja dia datang diwaktu dan kejadian yang salah.. yang membuatku harus membencinya.. ya membencinya..

" kalo aku bisa balikin semuanya.. aku lebih milih kehilangan semuanya demi balikin semuanya ke kamu " dia berkata lirih saat memelukku " aku lebih suka kamu tidur, maafin aku " dia berkata lemah dan mengulang permintaan maafnya kepadaku dan mencium pipiku.. lagi dia mengucapkan kata yang membuatku benar-benar merasa ini tak adil.. seperti kisah cintaku kepada reza.. dia juga mengalami ketidak adilan ini.. Aku memilih diam dan berada diantara ketidak adilan ini.. yaa.. ini sudah cukup bagiku..

Mungkin dengan diam aku lebih bisa menerimanya dan dia lebih merasa nyaman denganku.. Aku larut dalam pikiranku sendiri hingga aku tertidur lagi tanpa rasa takut yang berlebihan.. Dan mungkin dia juga tertidur.. karena pagi ini, mungkin pagi terindah untuknya karena bersamaku dan pagi terindah untukku karena ada yang memelukku dimasa-masa tersulit ini.. Dan biarkan diam menjadi saksi bahwa aku mulai sedikit memaafkannya..

Quote:" Memaafkan itu tidak sulit.. Karena benci dan cinta itu terletak pada satu ruang yang sama yaitu , Maka berilah banyak porsi untuk rasa cinta dan sedikit porsi untuk rasa benci.. Sehingga memaafkan pun akan terasa lebih mudah untuk dilakukan - Memaafkan, memberi sedikit ruang pada rasa benci "

Dan setiap kisahku memiliki sebuah makna yang akan aku jadikan pelajaran hidupku.. Dibalik sosok wanita sepertiku, terdapat sebuah kisah yang akan terkunci rapat dalam hidupku.. Dan bagi kalian yang mengenalku di kehidupan nyata, biarlah kalian menerka apa yang pernah terjadi dan apa yang aku alami atau pendidikan/orang tua seperti apa yang ada padaku, bahkan lingkungan seperti apa yang bersamaku.. dan cukuplah kalian tau.. ini aku untuk hidupku ( dengan kisah kelam terpendam )...

NEXT PART 45
Share:

Beauty in the dark Part 43


Yang tak Diharapkan
Hidup sendiri membuatku lebih baik.. Entah apa yang mereka pikirkan tetangku.. Aku tak perduli.. Inilah hidup yang aku jalani saat ini.. Sampai dia mulai masuk dalam hidupku.. Dia orang yang paling aku benci.. Entah darimana dia muncul dan ada dihadapanku..

--------------------
Aku berjalan keluar dari kampusku selesai ujian.. Aku mendapat jadwal siang dan pulang disore hari.. Entah mengapa aku enggan melihat taman tempat aku biasa menghabiskan waktu jika ingin melakukan hal dengan sendiri.. Hari terakhir ujian.. Selanjutnya libur dan aku akan menunggu waktu pengumuman nilai, demo projek dan fokus untuk istirahat di siang harinya.. Setidaknya hariku tak akan berat dengan kondisi yang seperti ini.. Dan memang tak berat karena aku sudah menonaktifkan diri dari segala kegiatan.. Biarlah teman aktifisku menghujat.. setidaknya mereka tak mengerti aku..

Masih sama jalan yang telusuri dengan berjalan kaki, sampai dikos.. fida sudah meng sms ku untuk segera bersiap.. Karena dia ingin berangkat cepat ke kafe.. Akupun menyiapkan diriku..

Tak berapa lama benar saja fida sudah nongol didepan kamarku yang sengaja aku buka..

"queeennnn " dengan nada manja dia memanggilku seperti biasanya
" iya bentar fi "
" pasti belum siap nih.. " dia sudah masuk didalam kamarku " tuhkan bener " dia sedikit manyun..
" sabar yaaa " aku masih dengan ekspresi datarku
" aku kangen queen " aku hanya diam tanpa kata..
" queeenn.."
" iyaaa.. "
" aku kangen "
" sama siapa.?"
" kamu "
" kenapa.?" masih dengan ekspresi yang sama " kan aku disini "
" bukan kamu yang sekarang, kamu yang dulu.. "
" udahlah nggak usah dibahas.. yuk berangkat " aku sudah siap dengan semuanya..
" iya deh.. yodaaah " dia memilih mengalah terhadapku..

-------------------
" heeeii " aku tak menyadari seseorang menyapaku dan hanya diam tak bersuara.. " heeeii queen " dia kembali berusaha mendapatkan perhatianku.. dengan tatapan yang kosong, aku menyadari bahwa ada yang memanggil namaku.. akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya.. dan betapa terkejutnya aku.. siapa yang ada dihadapanku..

" kenapa.? ada yang salah ?"
" ngapain kamu disini.? "
" nemuin kamu lah.. jemput kamu pulang " dia tersenyum lebar
" nggak, makasih "

" ayooolah.. aku udah hampir gila nyari kamu kemana-mana.. " aku hanya berlalu meninggalkannya ke arah parkiran, dimana motor fida diparkir

" pliss queen " dia menarik tanganku
" lepasin " aku semakin emosi menghempaskan tangannya " lo mau apa lagi.. hah ?" teriakku semakin emosi

" nggak usah marah-marah dulu lah.. nggak bisa apa ngomong baik-baik "
" ngapain ngomong baik-baik sama bajingan kayak lo "
" gue emang bajingan, tapi gue cuma tidur sama lo "
" heh.. sekalian ajah lo umumin kesemua orang kalo lo pernah nidurin gue "
" bukan gitu queen.. plis.. dengerin gue.. gue mohon "
" gue nggak mau denger apa-apa dari lo "

" tolong queen.. sekali ini ajah.. gue nggak minta lebih.. sekali ini ngobrol sama gue.. kenal sama gue " belom lagi aku membuka mulut fida keluar dan berkata

" eh.. lo disini.." mengarah ke cowok itu
" kamu kenal dia fi.? " aku bertanya bingung ke fida

" eh.. kemaren dia nyariin kamu dikosan ku.. katanya ada penting.. jadi ya aku bilang kita satu kerjaan.. emang kenapa queen ?"

" nggak apa-apa.. aku pulang bareng dia fi.. nggak apa-apa kan ?"

" ooh.. iyaa nggak apa queen " fida terlihat bingung dengan keputusanku "hati-hati yaa.. jangan lupa kasih kabar ke aku " dan aku hanya mengangguk.. " duluan ya fi.. " aku menarik tangannya dan meninggalkan fida yang menuju parkiran dengan kebingungan..sementara dia menjadi bingung akan sikapku yang berubah dan memilih mengikuti perkataan yang aku katakan kepada fida..
"mobilku disana " dia memberitahukan posisi mobilnya
" aku udah tau " jawabku ketus.. tentu saja aku sudah mencari dimana posisi mobilnya..

Kami berjalan tanpa kata ke arah mobilnya.. dia membukakan pintu terhadapku.. Sekilas aku melihat rio menatapku dari kejauhan.. Ah.. entah apa yang dipikirkannya, aku sudah tak memikirkan pandangan rio atau anak lain terhadap diriku.. yang aku mau, masalah dengannya selesai saat ini juga..

Dan kami hanya diam sepanjang perjalanan.. Aku memandang kearah luar jendela.. Aku tau dia memperhatikanku.. Aku memang terlihat kacau dan sangat kacau.. mungkin dia menyadarinya.. Tapi aku tetap tak memalingkan wajahku.. Rasanya berada disini seperti berada dineraka bagiku.. Entah baginya, tapi bagiku ini mengorek kenangan yang lalu dalam hidupku.. ya kenangan yang membuatku menjadi wanita yang berharga sedikitpun dimata lelaki nantinya..

" kamu sakit ?" terdengar suara lemahnya menyadarkan lamunanku dan aku hanya diam..
" kamu kenapa.?" dia mencoba mengajakku berbicara dengan semampunya. " queen.. kamu baik-baik ajah kan ?" dia sekarang tau namaku, besok dia tau apalagi tentangku.. aaah.. sudahlah..
" aku nggak apa, kamu mau ngomong apa ?" aku menajwabnya dengan datar tanpa melihatnya
" sampe kapan kamu ngindari aku ?"
" sampe aku nggak bakal liat kamu "
" queen.. aku nggak tau seberapa bencinya kamu sama aku.. walau kamu nggak sadar, kamu udah ngusik pikiranku "
" aku nggak minta kamu mikirin aku "
" iyaa emang.. tapi aku mau kamu mikirin aku "
" aku udah cukup mikirin kamu.. itu buat aku sakit "
" bisa nggak lupain salahku "
" bisa nggak balikin apa yang udah kamu ambil ?" kali ini aku memandangnya.. sejenak suasana menjadi hening dan dia hanya diam.. ya diam.. " nggak bisa kan.? aku juga nggak bisa "
" boleh aku jadi temanmu "
" teman bercinta iya.. teman hidup nggak "
" terlalu tinggi kah egomu.?"
" bahkan seorang pelacurpun nggak berhak punya ego.. trus aku berhak apa.? " aku seakan tak bisa menahan emosiku terhadapnya.. entahlah.. mau sebaik apapun dia aku tak bisa.. dan dia berhenti sejenak dipinggir jalan yang gelap.. dia tak akan menyentuhku, jika dia menyentuhku.. dia memang benar bajingan..
" bukan itu maksudku.. biarin aku tanggung jawab sama yang udah aku lakuin ke kamu "
" aku nggak butuh tanggung jawab.. aku cuma butuh sendiri.. tolong ngertiin aku " kalau ajah ini bukan malam hari.. aku bakalan keluar dari mobil ninggalin dia sendiri.. tapi apa daya aku nggak bakal bisa ninggalin dia..
" oke.. kalo itu maumu.. aku mau bercinta sama kamu.." dia berkata seolah-olah aku harus menjadi pelacurnya dan dia semakin mendekatkan dirinya kepadaku.. entah apa yang dala dipikiran ku "PLAAK!!" tanganku mendarat dipipinya.. dan aku mendorong badanny..
" aku bukan pelacur!!!" teriakku sekencang-kencang, sementara dia tertawa meringis menyentuh pipinya dengan ujung tangannya.. dan tanpa sadar air mataku jatuh dengan sendirinya.
" kamu nawarin satu cara, tapi kamu benci cara itu.? trus aku harus pake cara apa.?" aku hanya diam dan diam " terserah.. aku nggak bakal nyerah sama kamu.. aku bisa lakuin apa ajah buat dapetin kamu "
" aku nggak kayak yang kamu bayangin.. tolong tinggalin aku sendiri "
" nggak akan " hanya itu kata yang keluar dari mulutnya dan dia kembali mengantarku pulang..

Selebihnya hanya keheningan yang ada diantara kami.. Setelah beberapa saat aku baru sadar.. Jangan sampai dia mengantarku sampai dikosan ku.. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membuka perkataan ke dia sebelum kami terlalu jauh tak ada tujuan dan dia hanya diam tak bertanya..

" tolong anterin aku ke kos fida "
" setelah semuanya kamu masih bisa bilang tolong.. kasih aku alasan buat aku bisa jauhin kamu "
" jangan mulai lagi.. aku mohon "
" aku nggak akan berhenti queen "
" berhenti manggil namaku "

" manggil namamu pun nggak boleh.. trus apa yang aku boleh.? beli badanmu.? cuma itu.?" pertanyaan yang sangat menyayat hatiku.. dan maafkan aku.. memang kamu hanya boleh membeli badanku, bukan memiliki seutuhnyaa.. " bahkan tanya namaku siapa pun nggak.? tersenyum sama aku pun nggak.? bersikap ramah sama aku pun nggak.? apa yang bisa dapetin darimu queen.. tolong jawab "

" kamu nggak bisa dapet apa-apa.. aku nggak bisa terlibat cinta sama orang yang membeli ku "
" sampe segitunya egomu.. aku nggak ngerti jalan pikiranmu "
" memang aku gitu.. jadi tolong berhenti ganggu urusan pribadiku "
" aku nggak bisa.. udah terlanjur "
" terserah.. aku capek "
" dan kamu nggak ngasih aku pilihan "
"-----"

Tak ada yang bersuara disini.. tapi aku seakan tak menyadari kemana kami akan pergi.. sama sekali tak menyadarinya.. entahlah.. entah apa yang ada dipikiranku sehingga konsentrasiku berkurang.. ya memang berkurang.. Malam ini setidaknya aku tak mengerti apa yang terjadi dalam diriku..

NEXT PART 44
Share:

Beauty in the dark Part 42


Pelampiasan


Entah kenapa aku ingin menyelipkan untaian kata pada pengantar kesalahan-kesalahanku..




Bersedih bukan alasan untuk membenarkan sesuatu yang salah dalam hidup ini.. bersedih bukan alasan untuk melampiaskannya pada perbuatan salah yang kita anggap benar.. Dan pembenaran apa yang kita lakukan dengan alasan bersedih, kecewa bahkan sakit hati bukanlah kebenaran yang hakiki.. Ini sama saja dengan mencari alasan agar untuk membenarkan hal yang sebenarnya salah yang telah terjadi..




Dan.. Semua kesedihanku sebagai pengantar atas pelampiasan ku kepada kehidupanku.. dan menjadikan hidup yang semakin berwarna kelam.. Saat masa kelam itu menjadi kelam.. aku berharap ada sosok malaikat yang datang menghampiriku walau aku tak memikirkannya.. Dan TUHAN, memang punya sejuta jalan untuk menunjukkan bahwa aku salah.. walau kadang aku tak pernah sadar bahwa aku salah..




Aku.. Seorang wanita yang berada di persimpangan jalan atas kehidupanku..
Masalalu sedihku.. Dan masa depan sedihku..
Mana yang aku pilih.? Tentu saja masa depan sedihku..
Karena aku menjadi diriku yang bukan diriku..
Menikmati kedesihan akan masa depanku..
Meninggalkan jejak sedih masalaluku..
Walau masih membayang dalam ingatan akan kenyataan yang kuharap mimpi..
Tapi..
Aku tak bisa memilih apapun saat ini..
Hanya untaian kesalah dan dosa yang menghampiriku..
Secara perlahan tapi pasti..
Dan..
Aku tak akan bisa menjadi malaikat ataupun bidadari syurga..
Aku..
Berawal dari diriku yang indah..
Menjadi diriku yang tak berupa..
Dan...
Aku.. Tak akan pernah bahagia dalam satu waktu..



NEXT PART 43








Share:

Beauty in the dark Part 41


Kuatkah Aku.?
2011~

Sekuat apapun hatiku bertahan dan mengingkari apa yang terjadi.. tetap saja tak bisa mengalihkan keredupan dalam hari-hariku saat aku mengetahui dia menghilang dan tak kembali.. aku lebih menyukai kebohongan, dia menghilang karena telah menetapkan hati daripada dia menghilang selamanya dalam dunia ini.. Tapi tetap saja, sekeras apapun aku menangis dan memohon bahkan bersedih, dia tak akan kembali.. Entah mengapa, saat ini aku merasa menjadi orang yang paling sedih didunia ini, padahal sejatinya banyak orang yang tidak lebih beruntung dibandingkan diriku.. tapi.. saat ini memang aku tak bisa berpikir panjang.. karena semua yang ada dalam benakku tak bisa aku bohongi..

Wajah sendu yang menghiasi hariku kian hari kian menguasai diriku.. Aku menjadi anak yang sedikit pendiam, jarang berbicara dikelas, tak lagi menyukai keramaian, meninggalkan segala aktivitas kampus, menjadi queen yang menyukai kesendirian akibat duka yang begitu mendalam.. Tak pernah lagi terpancar senyum tulus dariku.. Dan aku berada dikondisi terburukku untuk penderita bipolar, hanya saja aku berusaha mengontrolnya selama ini, dengan diriku sendiri dan obatku.. Fisikku juga mengalami penurunan.. Semakin hari aku semakin tidak karuan, aku tak menyukai makan, aku tak menyukai tidur, aku tak menyukai cahaya matahari dan aku menyukai kegelapan dalam hidupku..

Dan anda.. dia memilih membiarkanku menikmati duniaku.. sepertinya dia sudah lebih dewasa untuk menerka kondisiku, walau terkadang dia memberanikan diri untuk menyuruhku makan, membelikanku vitamin atau hanya sekedar bertanya dan sedikit menceritakan aktivitasnya.. Namun, tetap saja aku masih bermain dalam duniaku.. Aku yang mencoba tegar ternyata kalah dengan ego hatiku akan perasaan kehilangan yang mendalam.. Di pekerjaan aku tak banyak bicara, fida lebih memilih membiarkanku untuk waktu yang aku sukai.. dan aku berterimakasih kepadanya..

Aku sudah lupa dengan semua aturan yang aku buat dalam hidupku.. dan benar aku melupakannya.. dan bermain dalam dunia yang aku tak tau apa namanya.. Dan aku semakin tak mengerti apa yang terjadi denganku seakan aku tak mengenal diriku..

Aku bukanlah aku, dan kau tak akan tau siapa aku.. Karena aku sudah terlarut dalam dunia yang membuatku semakin pilu.. Tak ada yang memperdulikanku, tak ada yang memperhatikanku, tak ada yang menganggapku, dan tentu saja tak ada yang bisa menarikku dari berbagai kehampaan yang aku rasakan.. Saat ini aku hanya ingin begini, menjalani hidup dengan apa yang harus aku jalani, tanpa mencoba berani tertawa dan berharap sebuah kisah dalam hidupku.. Karena aku ditakdirkan sebagai pelipur lara bagi semua orang yang ada dihidupku tanpa harus aku bahagia dan memiliki seorang yang berarti dalam hidupku..

Aku ditakdirkan sendiri.. ya aku ditakdirkan sendiri.. karena mereka yang tulus kepadaku, akan pergi dengan sendirinya tanpa aku minta.. Jika tak mereka yang memutuskan, maka TUHAN yang akan mengambilnya.. Dan lebih baik aku menjadi seperti ini, menjalani hidup dengan apa adanya.. Berusaha terus berdiri sampai kapanpun hanya untuk satu tujuan.. Janji kehidupan yang lebih baik kedepannya..

-------------------------
Waktu semakin berlalu.. Berhari.. Berminggu.. Berbulan.. Dan aku masih sama seperti ini.. Bahkan aku tak tau sampai kapan aku akan begini,, Usiaku sudah menginjak 20 tahun di tahun ini dan aku maish seperti diriku dipenghujung tahun lalu..Akhir tahun terberat ku.. Setidaknya bebanku semakin berkurang dan terhenti untuk sesaat..

Dan aku harus mengikuti serangkaian ujian untuk melewati semester ini.. Tanpa emosi yang terpancar dari diriku, aku melalui kehidupanku dengan apa adanya.. ya dengan apa adanya.. Jauh dari keluarga membuatku lebih leluasa mengekspresikan kesendirianku yang begitu dalam.. Dan aku justru menikmatinya.. Aku semakin sering sendiri diatas kosanku.. Dalam gelap malam memandang bintang dan rembulan.. Melihat segala yang TUHAN ciptakan dari atas sini dan mencoba merenung dengan segala yang ada, mencoba menjadi lebih baik dalam menelaah semuanya..

Dan tetap ada kata tapi.. Tapi aku tak bisa TUHAN, aku masih ingin dia ada disini.. Entah berapa tahun itu berlalu TUHAN...

Aku menghabiskan 4 tahun bersamanya di 5 tahun sisa hidupnya.. Dan aku masih punya banyak tahun untuk mengenanganya.. yaa.. hanya mengenangnya TUHAN.. bolehkah aku begitu.? Jika boleh, biarkan aku larut dalam perasaan ini, jika tidak.. maka bantulah aku bangkit untuk kesekian kalinya TUHAN.. Aku selalu bersyukur dan mencoba menerima semua dalam hidupku.. Aku tak mengeluh apapun.. Tapi kali ini, bolehkah aku mengeluh.. Untuk kisah cintaku yang tak tersampaikan.. Dan ternyata aku nggak bisa mengeluh..

---------------------

Tahun ini... Mungkinkah menjadi tahun yang menorehkan kisah yang lebih dari tahun-tahun kemarin.. Jika iyaa.. Kuatkan aku TUHAN..

Karena...
Aku terlalu lemah untuk menghapus semua kenangan tentangnya walau aku telah merelakan dan mengikhlaskan semua tentangnya.. Bahkan...
Aku tak mengerti bagaimana lagi caranya untuk tak mengingatnya.. mendambakan dirinya..
Dan..
Aku sudah terlalu tersiksa untuk perasaan ini TUHAN...
Kembalikan aku seperti aku yang dahulu... Aku yang hanya memikirkan keluargaku bukan egoku..

-----------------------

Nggak tau entah memang kebetulan atau apa.. Setiap aku nulis kisah tentang kepergian Reza dimeja kantorku, setiap itu pula lagu ini diputer ole temanku tanpa sengaja.. Dan setiap itu pula air mataku jatuh tak tertahankan.. Kenapa harus ada lagu ini disaat aku mengulang kisah tentangnya.. Bahkan hari ini juga masih ada lagu yang mengingatkanku bersamanyaa.. Karena dulu saat aku kelas 3, aku pernah sesekali di tlp oleh reza dan terkadang req lagu diradio dikotaku.. Sambil tlp, kami saling mendengarkan.. Masa indah untuk teman maya bukan.. Cinta tanpa wujud untuk sekian tahun dalam hidupku.. Cinta tanpa wujud yang tak akan pernah terganti..

Quote:Hari demi hari telah ku lewati
Tak pernah aku bersamamu lagi
Tak pernah aku menduga
Kau akan pergi tinggalkan aku

Jauh kau pergi tinggalkan diriku
Sepi hati ini membunuhku
Ku coba untuk cari penggantimu
Namun tak ada yang sepertimu

Rindu aku, sangat rindu kamu
Terasa sejak kau masih ada di dekatku
Tak mudah aku melupakan dirimu
Di saat aku terbangun dari tidurku

Rindu aku, sangat rindu kamu
Terasa sejak kau masih ada di dekatku
Tak mudah aku melupakan dirimu
Di saat aku sendiri

Ooh jauh kau pergi tinggalkan diriku
Sepi hati ini membunuhku
Ku coba untuk cari penggantimu
Namun tak ada yang sepertimu

Rindu aku, sangat rindu kamu
Terasa sejak kau masih ada di dekatku
Tak mudah aku melupakan dirimu
Di saat aku terbangun dari tidurku

Rindu aku, sangat rindu kamu
Terasa sejak kau masih ada di dekatku
Tak mudah aku melupakan dirimu
Di saat aku sendiri

NEXT PART 42
Share:

Arsip Blog

Pengunjung

Blog Archive